Selasa, 31 Mei 2016

Perkembangan kelompok bermain dengan TK Persamaan dan perbedaan

Nama          : Melisa agustina
Kelas                    : A
NPM                     : 1513054010

Perkembangan kelompok bermain dengan TK
Persamaan dan perbedaan
PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian din, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
(UUSPN NO. 20/2003 PASAL 1 BUTIR 1)
PENGERTIAN PAUD

UU NO. 20 TH 2003 (TENTANG SISDIKNAS)
• PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) ADALAH SUATU
UPAYA PEMSINAAN YANG DITUJUKAN KEPADA ANAK SEJAK
LAHIR SAMPAI DENGAN USIA 6 TAHUN YANG DILAKUKAN MELALUI
PEMBERIAN RANGSANGAN PENDIDIKAN UNTUK MEMBANTU
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JASMANI DAN ROHANI
AGAR ANAK MEMILIKI KESIAPAN DALAM MEMASUKI PENDIDIKAN
LEBIH LANJUT
• SELANJUTNYA KETENTUAN TENTANG PAUD DIATUR SECARA KHUSUS PADA AYAT 28 (PAUD SEDERAJAT DENGAN DIKDAS, DIKMEN, DIKTI)
JALUR DAN JENJANG PAUD
(Pasal 2S UUSPN No 20 Tahun 2003)

JALUR
FORMAL Taman Kanak-kanak (TIC), roudhatul
Athfol (RA), atau bentuk l
ain sederajat
JALUR NON FORMAL Kelompok Bermain (KB). Taman Penitipan
An
ak (TPA), atau bentuk lain sederajat
JALUR INFORMAL
Pendidikan Keluarga atau Pendidikan
yang Diselengg
arakan oleh Lingkungan

Catatan: ayat (1) Pasal, 28 UU No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa paud diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar
1.     Landasan yuridis penyelenggarakan pendidikan
PESERTA DIDIK KOBER
PRIORITAS LAYANAN
Anak usia 2-4 tahun dengan jumlah minimal 10 orang (usia pra-TK).
Anak usia 5-6 tahun yang tidak mendapat kesempatan masuk di TK, dengan jumlah minimal 10 anak (usia TK)
KB A
KB B
TK A
TK B
:
:
:
:
usia 2-3 tahun
usia 3-4 tahun
usia 4-5 tahun
usia 5-6 tahun
Kedua kartegori itu sama2 di bawahi oleh Depdiknas tetapi masing2 memiliki induk yang beda, kalau PAUD itu di bawah Dirjen.PAUD. Sedangkan KB Dirjen. Pend. Dasar/ TK
Tingkat pendidikan Kelompok Bermain dirancang untuk memenuhi kebutuhan anak berusia 2 sampai 4 tahun, sedangkan Taman Kanak-kanak untuk anak usia 4-6 tahun.
Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan mencakup agama,  bahasa (Indonesia, Inggris dan Mandarin), membaca-menulis,  pengembangan karakter, moral, pengembangan motorik kasar dan halus, komputer dan sains.
Sejak dini anak-anak diajarkan untuk menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab dalam keseharian mereka di sekolah sebagai bekal dasar untuk jenjang pendidikan yang lebih lanjut. Contohnya, anak-anak diajak untuk berani dan bisa melayani diri sendiri (self help) misalnya: pergi ke toilet sendiri, bisa memakai dan melepas kaus kaki dan sepatu, makan sendiri serta berhati-hati dan bertanggung jawab untuk menjaga barang bawaan pribadi mereka.
Peran guru dalam hal ini adalah sebagai pendamping dalam proses belajar mengajar, mengawasi para murid, dan membantu mereka bila ada anak yang belum mampu serta memberi kesempatan agar anak-anak bisa berlatih melayani diri sendiri. Nilai-nilai dan kebiasaan baik yang ditanamkan di sekolah diharapkan bisa melekat pada pribadi anak untuk diamalkan di kehidupannya, baik itu di rumah maupun di lingkungannya. Sebaliknya, kebiasaan positif yang diajarkan di rumah oleh orang tua juga bisa terus dibawa oleh anak ke sekolah.
Rasa nyaman dan senang dalam proses belajar mengajar adalah dua hal selalu dihadirkan. Dengan begitu anak-anak dapat menyerap ilmu dengan lebih maksimal. Kegiatan belajar mengajar dilakukan pelbagai cara, seperti tanya jawab, diskusi aktif, melakukan percobaan sederhana, kunjungan ke lapangan, presentasi, dll. Guru berperan aktif untuk menyampaikan pelajaran dengan ekspresif sehingga anak menjadi bersemangat, gembira, dan penuh minat.
Kelas dibangun dan dirancang untuk memenuhi kenyamanan dalam belajar mengajar. Ruangan kelas luas dan berpendingin yang mana tiap kelas dilengkapi dengan sarana dan prasarana seperti alat peraga, buku, dan mainan edukasi untuk mendukung proses belajar mengajar.
Para pengajar sekolah ini adalah guru-guru yang berpengalaman, ramah, dan berdedikasi dalam dunia pendidikan. Pada setiap kelas akan terdapat pengajar dengan sistem perbandingan 1 guru untuk setiap 5 orang anak (KB) dan 1 guru untuk 10 anak (TK).

2.      Jalur pembinaan dan pendidikan

Pendidikan anak usia dini (PAU) adalah suatu upaya pembinaan yang di tunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Taman Kanak – Kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia 4 – 6 tahun, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut. Raudatul Athfal (RA) dan Bustanul Athfal (BA) adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan umum dan program keagamaan Islam bagi anak usia 4-6 tahun untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut. Kelompok Bermain (KB) adalah salah satu bentuk pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia 2-4 tahun, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut. Taman Penitipan Anak (TPA) adalah layanan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat bagi anak usia lahir sampai dengan enam tahun sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu bagi anak yang orang tuanya bekerja. Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan nonformal (PAUD Nonformal) yang dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan berbagai program layanan anak usia dini yang telah ada di masyarakat (seperti Pos PAUD, Bina Keluarga Balita, Taman Pendidikan Al Qur’an, Taman Pendidikan Anak Soleh, Bina Iman Anak (BIA), Bina Anak Muslim Berbasis Masjid (BAMBIM), Atau dengan kata lain Satuan PAUD Sejenis adalah salah satu bentuk layanan PAUD Nonformal selain dalam bentuk Taman Penitiapan Anak dan Kelompok bermain yang memberikan layanan pendidikan dalam rangka membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut. Program PAUD Terpadu adalah program layanan pendidikan bagi anak usia dini yang menyelenggarakan lebih dari satu program PAUD (TK, KB, TPA, SPS) yang dalam pembinaan

3.     Sasaran usia peserta didik (objek layanan pendidikan)

Kelompok Bermain adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun. Sasaran KB adalah anak usia 2 – 4 tahun dan anak usia 4 – 6 tahun yang tidak dapat dilayani TK (setelah melalui pengkajian dan mendapat rekomendasi dari pihak yang berwenang).
         Layanan Program Kelompok Bermain (KB) setiap hari atau minimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 hari atau 32 - 34 minggu. Berbeda dengan Dr. Suparyanto yang  mengatakan bahwa Jumlah hari dan layanan dalam Kelompok bermain (KB) yaitu setiap hari atau maksimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam.
Materi belajar bagi anak usia dini dalam Kelompok Belajar dibagi dalam 2 kelompok usia yakni:
Materi Usia lahir sampai 3 tahun meliputi:
1). Pengenalan diri sendiri ( Perkembangan konsep diri)
2). Pengenalan perasaan (Perkembangan emosi)
3). Pengenalan tentang Orang lain (Perkembangan Sosial)
4). Pengenalan berbagai gerak (perkembangan Fisik)
5). Mengembangkan komunikasi (Perkembangan bahasa)
6). Ketrampilan berfikir (Perkembangan kognitif)
Materi untuk anak usia 3 – 6 tahun meliputi :
  1. Keaksaraan mencakup peningkatan kosa kata dan bahasa, kesadaran phonologi, wawasan pengetahuan, percakapan, memahami buku-buku, dan teks lainnya.
  2. Konsep Matematika mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan, geometri dan kesadaran ruang, pengukuran, pengumpulan data, pengorganisasian, dan mempresentasikannya.
  3. Pengetahuan Alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan.
  4. Pengetahuan Sosial mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan yang lain, membentuk, dan dibentuk oleh lingkungan. Komponen ini membahas karakteristik tempat hidup manusia, dan hubungannya antara tempat yang satu dengan yang lain, juga hubungannya dengan orang banyak. Anak-anak mempelajari tentang dunia dan pemetaannya, misalnya dalam rumah ada ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang belajar; di luar rumah ada taman, garasi, dll. Setiap rumah memiliki tetangga dalam jarak dekat atau jauh.
  5. Seni mencakup menari, musik, bermain peran, menggambar dan melukis. Menari, adalah mengekspresikan ide ke dalam gerakan tubuh dengan mendengarkan musik, dan menyampaikan perasaan. Musik, adalah mengkombinasikan instrumen untuk menciptakan melodi dan suara yang menyenagkan. Drama, adalah mengungkapkan cerita melalui aksi, dialog, atau keduanya. Seni juga mencakup melukis, menggambar, mengoleksi sesuatu, modeling, membentuk dengan tanah liat atau materi lain, menyusun bangunan, membuat boneka, mencap dengan stempel, dll.
  6. Teknologi mencakup alat-alat dan penggunaan operasi dasar. Kesadaran Teknologi. Komponen ini membahas tentang alat-alat teknologi yang digunakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan pekerjaan keluarga. Anak-anak dapat mengenal nama-nama alat dan mesin yang digunakan oleh manusia sehari-hari.
  7. Ketrampilan Proses mencakup pengamatan dan eksplorasi; eksperimen, pemecahan masalah; dan koneksi, pengorganisasian, komunikasi, dan informasi yang mewakili.
Materi-materi itulah yang akan diterima dan diajarkan oleh pendidik pada anak-anak usia dini dalam Kelompok Bermain. Dari matri-materi tersebut sang pendidik dapat mengeksplorasi ataupun dapat mengembangkan materi-materi tersebut yang sudah ada. Sehingga anak-anak usia dini tidak bosan dan jenuh dengan materi-materi yang mereka terima dalam Kelompok Belajar tersebut.[1][3]

4.     Prinsip – prinsip penyelenggarakan pendidikan

PRINSIP-PRINSIP DI KOBER
 *Setiap anak unik Mereka tumbuh dan berkembang dan kemampuan. kebutuhan. keinginan. pengalaman. dan latar belakang keluarga yang berbeda.
*Anak usia 2-4
senang bermain. Bermain merupakan cara mereka belajar. kegiatan bermain harus dapat memfasilitasi keberagaman cara belajar dalarn suasana senang. sukarela, kasih sayang dengan memanfaatkan kondisi lingkungan sekitar.
* Pendidik harus merniliki kemampuan dan kemauan mendidik, memaharni anak, bersedia mengembangkan potensi yang dimiliki anak penuh kasih sayang dan kehangatan serta bersedia bermain dengan anak.
REFERENSI
• UUSPN No. 20/Tahun 2003
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.






Contoh kalimat KESEJAJARAN dan KEHEMATAN

Contoh kalimat KESEJAJARAN dan KEHEMATAN

1.     Kesejajaran Makna
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

Macam-macam perubahan makna:
a. Menyempit/spesialisasi
Kata yang tergolong kedalam perubahan makna ini adalah kata yang pada awalnya penggunaannya bias dipakai untuk berbagai hal umum,tetapi penggunaannya saat ini hanya terbatas untuk satu keadaan saja.
Contoh:
Sastra dulu dipakai untuk pengertian tulisan dalam arti luas atau umum,sedangkan sekarang hanya dimaknakan dengan tulisan yang berbau seni.Begitu pula kata sarjana(dulu orang yang pandai,berilmu tinggi,sekarang bermakna “lulusan perguruan tinggi”).
b. Meluas/generalisasi
Penggunaan kata ini berkebalikan dengan pengertian menyempit.
Contoh:
Petani dulu dipakai untuk seseorang yang bekerja dan menggantungkan hidupnya dari mengerjakan sawah,tetapi sekarang kata tersebut dipakai untuk keadaan yang lebih luas.
Penggunaan pengertian petani ikan,petani tambak,petani lele merupakan bukti bahwa kata petani meluas penggunaannya.
c. Amelioratif
Pada awalnnya,kata ini memiliki makna kurang baik,kurang positif,dan tidak menguntungkan.
Contoh:
Wanita,pramunikmat,dan warakawuri merupakan kata-kata yang dipakai untuk lebih menghaluskan, menyopankan pengertian yang terkandung dalam kata-kata tersebut.
d. Peyoratif
Makna kata sekarang mengalami penurunan nilai rasa kata daripada makna kata pada awal pemakaiannya.
Contoh:
Kawin,gerombolan,oknum,dan perempuan terasa memiliki konotasi menurun atau negatif.
e. Asosiasi
Yang tergolong kedalam perubahan makna ini adalah kata-kata dengan makna-makna yang muncul karena persamaan sifat.Sering kita mendengar kalimat “hati-hati dengan tukang catut itu”. Tukang catut dalam kalimat diatas tergolong kata-kata dengan makna asosiatif,begitu pula dengan kata kacamata dalam:menurut kacamata saya,perbuatan anda tidak benar.
f. Sinestesia
Perubahan makna terjadi karena pertukaran tanggapan antara dua indera,misalnya dari indera pengecap keindera penglihatan.
Contoh:
Gadis itu berwajah manis,kata manis mengandung makna enak,biasanya dirasakan oleh alat pegecap,berubah menjadi bagus,dirasakan oleh indera penglihatan Kesejajaran Bentuk (Paralelisme).Demikian juga kata panas,kasar,sejuk,dan sebagainya.
2.     Kesejajaran Bentuk (Paralelisme)
Kesejajaran satuan dalam kalimat, menempatkan ide/ gagasan yang sama penting dan sama fungsinya kedalam struktur/ bentuk gramatis. Jika sebuah gagasan (ide) dalam suatu kalimat dinyatakan dengan frase (kelompok kata), maka gagasan lain yang sederajat harus dinyatakan dengan frase. Kesejajaran (paralelisme) membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan.

Contoh:
Penyakit aids adalah salah satu penyakit yang paling mengerikan dan berbahaya, sebab pencegahan dan pengobatannya tidak ada yang tahu. Dalam kalimat di atas penggunaan yang sederajat ialah kata mengerikan dengan berbahayadan kata pencegahan dengan pengobatannya. Oleh sebab itu, bentuk yang dipakai untuk kata-kata yang sederajat dalam contoh kalimat di atas harus sama (paralel) sehingga kalimat itu kita tata kembali menjadi:Penyakit Aids adalah salah satu penyakit yang paling mengerikan dan membahayakan sebab pengecahan dan pengobatannya tak ada yang tahu.
Contoh :
Kesejajaran bentuk mengacu pada kesejajaran unsur-unsur dalam kalimat.
3a)      Lokasi perumahan telah dipilih, tetapi lokasi itu belum disetujui direktur.
(3b)      Lokasi perumahan telah dipilih, tetapi direktur belum menyetujuinya.
Kalimat (3a) memperlihatkan kesejajaran bentuk kalusa, keduanya merupakan kalusa bentuk pasif. Sementara itu pada kalimat (3b) ketitidak sejajaran bentuk
terlihat pada ketitidak sejajaran bentuk kalusa pasif (dipilih) dan bentuk kalusa aktif (menyetujui). Agar terdapat kesejajaran, klausa kedua di ubah menjadi klausa pasif. Jika bentuk kalusa pertama pasif, bentuk klausa berikutnya pasif 3c)      Pemimpin unit telah memilih lokasi perumahan, tetapi direktur belum menyetujuinya
contoh :
Kesejajaran bentuk juga perlu diperhatikan dalam kalimat yang mengandung perincian. Perhatikan comtoh berikut/
(4) Langkah-langkah dalam wawancara ialah
(a)        pertemuan dengan orang yang akan diwawancarai,
(b)        utarakan maksud wawancara, dan
(c)        mengatur waktu wawancara                                                                                                  Ketidaksejajaran kalimat (4) terlihat dalam penggunaan bentuk kata pada awal rincian. Dalam rincian yang pertama digunakan bentuk kata pertemuan (nomina); dalam perincian kedua digunakan bentuk kata utarakan (verba); dalam perincian keiga digunakan bentuk kata mengatur(verba). Agar sejajar, kalimat (4) di perbaiki menjadi seperti berikut.
4a. Langkah-langkah dalam wawancara ialah
(a)                    mengatur pertemuan dengan orang yang akan diwawancarai
(b)                    mengutarakan maksud wawancara
(c)                    mengatur waktu wawancara.

3.     Kehematan
Contoh:
Mahasiswa mengambil keputusan tidak jadi melakukan study tour karena mereka tahu masa ujian telah dekat.
Direvisi menjadi:
Mahasiswa mengambil keputusan tidak jadi melakukan studi tur karena masa ujian telah dekat.
Hiponimi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hiponim adalah hubungan antara makna spesifik dan makna generik atau antaranggota taksonomi.
Contoh:
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya lampu neon.
Direvisi menjadi:
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya neon.
Direvisi menjadi:
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya neon.
Contoh:
Karena ia tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama belajar di rumahku. (tidak efektif)
Karena tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (efektif)

.




karya tulis ilmiah

Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah
Pendidikan Bahasa Indonesia / 3 SKS
Dosen Pembimbing: Khoerotun Nisa Liswati, S.Pd., M.Hum.


Disusun oleh
Kelompok 3:

Nama                                       NPM
Dina Puspita Sari                    1513054002
Melisa Agustina                      1513054010
Novia Safitri                           1513054011
Yana Dwi Putri R.                  1513054018
Siti Marinda                            1513054024
Ani Isrowiyah                         1213054006





PROGRAM S1 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Karya ilmiah dalam berbagai kesempatan seringkali dipandang sebagai sesuatu yang rumit, terbatas, milik pihak tertentu dan tentu saja sulit dilakukan. Temu ilmiah, misalnya terbatas pada ahli-ahli dalam bidang tertentu. Karya ilmiah juga sering dipahami sebagai karya yang dihasilkan oleh pihak-pihak tertentu yang sudah memiliki kader keilmuan tertentu pula. Para penulis karya ilmiah biasanya pakar atau ahli dalam suatu bidang tertentu. Para guru, karena dalam beberapa hal membatasi diri, seperti sulit memasuki wilayah ini, sehingga setiap kali mengikuti seminar atau pelatihan karya ilmiah tidak dipandang sebagai bagian dari dunianya. Padahal guru adalah ilmuwan yang ahli pada bidangnya dan diharuskan menghasilkan karya pada bidang tersebut. Padahal dunia keilmuan pada level manapun mengandung kadar keilmiahan dan dapat diraih oleh siapa pun sesuai dengan bidangnya.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian karya tulis ilmiah?
1.2.2 Bagaimana penulisan karya ilmiah?
1.2.3 Bagaimana bahasa dalam karya ilmiah?
1.2.4 Bagaimana editing dalam karya ilmiah?


1.3  Tujuam
1.3.1 Mengetahui pengertian karya tulis ilmiah.
1.3.2 Mengetahui penulisan karya ilmiah.
1.3.3 Mengetahui bahasa dalam karya ilmiah.
1.3.4 Mengetahui editing dalam karya ilmiah.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan kajian atas sebuah masalah tertentu yang tujuan pembahasannya harus mampu memberikan alternatif penyelesaian masalah tersebut. Karya ilmiah yang tidak mampu memberikan manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis tidak bisa dikategorikan karya ilmiah yang baik. Karakteristik keilmiahan sebuah karya terdapat pada isi, penyajian, dan bahasa yang digunakan. Isi karya ilmiah tentu bersifat keilmuan, yakni rasional, objektif, tidak memihak, dan berbicara apa adanya. Isi sebuah karya ilmiah harus fokus dan bersifat spesifik pada sebuah bidang keilmuan secara mendalam. Kedalaman karya tentu sangat disesuaikan dengan kemampuan sang ilmuwan. Bahasa yang digunakan juga harus bersifat baku, disesuaikan dengan sistem ejaan yang berlaku di Indonesia. Bahasa ilmiah tidak menggunakan bahasa pergaulan, tetapi harus menggunakan bahasa ilmu pengetahuan, mengandung hal-hal yang teknis sesuai dengan bidang keilmuannya.

2.1.1 Konsep Dasar Karya Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan tulisan yang membahas ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis dengan menggunakan bahasa yang benar.
Syarat minimal dalam sebuah karya ilmiah:
1.    menggunakan bahasa tulis sebagai media,
2.    membahas konsep ilmu pengetahuan,
3.    disusun secara sistematis,
4.    dituangkan dengan menggunakan bahasa yang benar.

2.1.2 Ciri-Ciri Karya Ilmiah
1.    objektif, artinya memiliki objek dan berisi penilaian secara objektif terhadap objek tersebut,
2.    faktual, artinya dibuat berdasarkan pada fakta yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,
3.    bermetode artinya disusun berdasarkan metode ilmiah tertentu,
4.    cermat dan jujur artinya mengangkat hal yang sebenarnya.

2.2 Penulisan Karya Ilmiah
2.2.1 Sistematika:
1.    Bagian pembukaan (lembar judul, kata pengantar dan daftar isi)
2.    Bagian Isi (pendahuluan, pembahasan, kesimpulan dan saran)
3.    Bagian penutup (daftar pustaka, riwayat hidup penulis, dan lampiran-lampiran yang diperlukan)

2.2.2 Tahapan Penulisan:
1.    Tahap persiapan:
a.    Pemilihan topik (dikuasai, baru, menarik, bermanfaat)
b.    Pembatasan topik
c.    Pengumpulan pustaka
d.   Penentuan tujuan dan manfaat
·      Fungsi perumusan tujuan:
o  menjelaskan (sesuatu) kepada pembaca, meyakinkan (sesuatu) pembaca, dan mempengaruhi pembaca.
·      Fungsi manfaat:
o  menyampaikan harapan penulis kepada pihak terkait.

e.    Penyusunan kerangka
·      merumuskan topik yang jelas
·      inventarisasi topik-topik bawahan (tulis semua yang ada dalam pikiran)
·      evaluasi semua topik yang telah tercatat pada langkah kedua
·      langkah kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya
·      menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian

2.    Tahap pengumpulan data
a.    studi pustaka atau membaca berbagai buku (sumber)
b.    melakukan penelitian yang dipersiapkan secara sistematis
c.    melakukan wawancara dengan nara sumber yang layak
d.   observasi atau menyebarkan angket.

3.    Tahap analisis data
a.    Teknik kualitatif dapat dilakukan dengan cara
·      identifikasi data
·      klasifikasi data
·      analisis data
·      interpretasi data dan pembuatan kesimpulan.
b.    Untuk teknik kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik uji statistik.

4.    Tahap penyusunan draf laporan
Kerangka tulisan yang dibuat sebelumnya pada tahap ini mulai dikembangkan. Pengembangan ini dilakukan dengan menyajikan hasil studi pustaka, hasil pengumpulan data, hasil analisis data, dan kesimpulan

5.    Tahap perbaikan dan pengeditan
6.    Tahap Pelaporan

2.2.3   Jenis-jenis Karya ilmiah
1.    Makalah: merupakan karya ilmiah yang berisi ide berdasarkan pada studi pustaka atau kajian lapangan, sebagai syarat penyelesaian tugas pada salah satu mata kuliah sehingga cukup dengan membaca beberapa buku yang berkenaan dengan mata kuliah tersebut, kemudian menyusun laporan tertulisnya.
2.     Laporan Penelitian: merupakan karya ilmiah yang biasanya disusun dengan tujuan untuk menyajikan/melaporkan kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan.
3.    Skripsi merupakan karya tulis ilmiah resmi yang membahas permasalahan dalam bidang tertentu. (syarat S-1)
4.    Tesis adalah karya tulis ilmiah resmi berfokus pada pengujian teori yang telah ada dalam satu disiplin ilmu tertentu. (syarat S-2).
5.    Disertasi merupakan karya ilmiah yang memiliki karakteristik: (a) berfokus pada penemuan sesuatu yang baru dalam disiplin ilmu tertentu, (b) berfokus pada pengembangan prinsip-prinsip teori yang telah ada, dan (c) berisi pengembangan model-model baru yang diuji di lapangan. (syarat S-3)
6.    Karya ilmiah populer biasanya ditulis dengan teknik penulisan yang menarik agar mudah dimengerti pembacanya namun tetap mempertahankan kebenaran ilmiah/objektif
7.     Kertas kerja merupakan salah satu jenis karya ilmiah yang disusun dengan tujuan untuk melaporkan satu kegiatan tertentu yang telah dilaksanakan oleh penulisnya (laporan kegiatan atau laporan kerja, misalnya KKN, PKL, kerja laboratorium). Sistematika dan teknik penulis kertas kerja biasanya akan sangat bergantung pada lembaga terkait.

2.3 Bahasa Karya Ilmiah
Karya tulis ilmiah harus menggunakan bahasa ilmiah, yakni bahasa resmi yang digunakan dalam bidang keilmuan. Bahasa keilmuan tentu bukan bahasa pergaulan sehari-hari atau bahasa populer yang disajikan di berbagai media. Karena karya ilmiah terbatas pembaca dan medianya, maka bahasa yang digunakannya lebih terbatas pula, mungkin hanya dipahami oleh mereka yang memiliki bidang keilmuan yang sama.
Secara umum, bahasa ilmiah adalah bahasa Indonesia yang baku (resmi) dan mengandung hal-hal teknis yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Bahasa yang demikian memiliki karakteristik-karakteristik berikut.
1.    Kencedekiaan.
Bahasa karya ilmiah harus mengandung sebuah bidang keilmuan (cendekia) melalui pertanyaan yang tepat.
2.    Lugas dan jelas
Bahasa karya tulis ilmiah harus disajikan dalam bahasa yang memiliki makna yang jelas, tidak bertele-tele dan tidak bermakna ganda. Bahasa yang digunakan harus pasti dan memberikan kepastian kepada pembaca.
3.    Formal dan objektif
Bahasa karya tulis ilmiah harus disajikan secara formal, baik dalam hal penggunaan kosakata, diksi, kalimat, dan sistem ejaaan yang digunakan. Objektif berarti menyajikan fakta dalam bahasa yang langsung dan tidak berpihak kepada siapapun.
4.    Ringkas dan padat
Bahasa karya tulis ilmiah harus disajikan secara tingkas, langsung pada sasaran yang dimaksud, dan padat secara isi. Dalam karya tulis ilmiah panjang uraian tidak menentukan baik-buruknya sebuah karya tulis. Oleh karena itu, bahasa yang disajikan harus bahasa yang ringkas dan padat.
5.    Konsisten
Bahasa yang konsisten adalah bahasa yang stabil dan mapan dipakai penulis, terutama dalam hal istilah atau penggunaan diksi. Konsistensi isilah dan diksi penting dalam karya ilmiah.
6.    Baku
Ragam bahasa ilmu harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa baku, yaitu dalam ragam tulis menggunakan ejaan yang baku dan dalam ragam lisan menggunakan kata yang baku, struktur frasa, dan kalimat yang baku.
7.    Denotatif
Kata-kata dan istilah yang digunakan haruslah bermakna lugas, bukan konotatif dan tidak bermakna ganda.
8. Berkomunikasi dengan pikiran daripada perasaan: Ragam bahasa ilmu lebih bersifat tenang, jelas, tidak berlebih-lebihan atau hemat, dan tidak emosional.
9. Kohesif
Agar tercipta hubungan gramatik antara unsur-unsur, baik dalam kalimat maupun dalam alinea, dan juga hubungan antara alinea yang satu dengan alinea yang lain bersifat padu maka digunakan alat penghubung, seperti kata penunjuk, dan kata penghubung.
10. Koheren
Semua unsur pembentuk kalimat atau alinea mendukung satu makna atau ide pokok.
11. Mengutamakan Kalimat Pasif
12. Logis
Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal.
13. Efektif
Ide yang diungkapkan sesuai dengan ide yang dimaksudkan baik oleh penutur atau oleh penulis, maupun oleh penyimak atau pembaca.
14. Kuantitatif
Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti.

2.4  Editing Karya Ilmiah
Langkah berikutnya melakukan perbaikan tulisan setelah draf tulisan selesai. Para saat menulis, hendaknya jangan melakukan perbaikan terlebih dahulu agar gagasan atau materi yang hendak disajikan dapat tertuang secara baik. Proses perbaikan terjadi ketika draf tulisan sudah diselesaikan.
Hal-hal yang hendaknya diperhatikan pada saat perbaikan tulisan adalah faktor kebahasaan dan faktor isi tulisan. Faktor kebahasaan berkait dengan masalah-masalah kebahasaan, seperti ejaan, disksi, kalimat, dan paragraf. Faktor kebahasaan merupakan tampilan fisik karya tersebut. Sementara editing isi dilakukan berdasarkan kebutuhan materi yang mesti disajikan dalam tulisan tersebut.

2.4.1   Publikasi Karya Ilmiah
Publikasi penting dilakukan agar karya ilmiah dapat dibaca banyak orang. Menulis untuk media massa berarti menulis untuk kepentingan publik. Oleh karena itu, tulisan yang dibuat harus disesuaikan dengan kebutuhan publik. Media massa (koran, majalah, jurnal) merupakan alat yang efektif untuk menyebabkan pikiran dan gagasan seorang penulis. Tulisan yang cocok untuk media massa:
1.    Tulisan harus actual
Media selalu menyajikan informasi actual yang terjadi setiap saat. Oleh karena masyarakat hanya menghendaki informasi actual yang disajikan sebuah media. Informasi terkini bukan hanya disajikan dalam ruang berita, tetapi juga dalam ruang opini.
2.    Tulisan harus menarik
Hal ini berarti sebuah tulisan harus disajikan dengan gaya yang mempersona dan mengambil tema-tema yang menarik perhatian pembaca. Menarik secara penyajian berkonsekuensi pada gaya penulisan seseorang. Secara tema, menarik berarti mengundang perhatian karena tema tersebut dibutuhkan oleh para pembaca.
3.    Tulisan harus padat isi
Tulisan di media harus langsung menyentuh persolan yang dibahas atau diulas. Penulis tidak boleh berpanjang-panjang bercerita. Tulisan yang berfokus menjadi syarat sebuah tulisan untuk layak dimuat disebuah media.
4.    Tulisan harus bermanfaat
Tulisan yang actual, menarik, dan disajikan padat isi belumlah cukup syarat untuk dimuat. Tulisan juga harus bermanfaat bagi pembaca. Tulisan dimaksud adalah yang mengandung manfaat bagi pembaca.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Karya tulis ilmiah merupakan kajian atas sebuah masalah tertentu yang tujuan pembahasannya harus mampu memberikan alternatif penyelesaian masalah tersebut. Karya tulis ilmiah merupakan tulisan yang membahas ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis dengan menggunakan bahasa yang benar.
Tahap penulisan karya ilmiah yaitu: tahap persiapan, tahap pengumpulan data, analisis data, penyusunan draf laporan, editing, dan pelaporan. Jenis-jenis karya tulis ilmiah yaitu: makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, karya ilmiah populer, kertas kerja.
Ragam bahasa karya ilmiah yaitu: kencedekiaan, lugas dan jelas, formal dan objektif, ringkas dan padat, konsisten, baku, denotatif, berkomunikasi dengan pikiran, kohesif, koheren, mengutamakan kalimat pasif, logis, efektif, kuantitatif.